SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI BLOG TAKIYA AZKAH

Rabu, 28 Maret 2012

ARTIKEL ANEMIA DALAM KEHAMILAN


Anemia Pada Ibu Hamil
      1.      Definisi
Anemia adalah suatu kondisi medis di mana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal umumnya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Untuk kadar pria anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13,5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12,0 gram/100 ml.
Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal.
Anemia defisiensi besi adalah anemia karena turunnya cadangan besi tubuh sehingga proses eritropoisis dan dapat menurunkan kuran Hgs darah dengan berbagai akibatnya. Anemia defisiensi besi tergolong anemia karena gizi. World Health Organization (WHO mendefinisikan anemia gizi adalah anemia yang terjadi karena kekurangan satu atau lebih nutrisi esensial untuk eritropoisis, tanpa memandang sebabnya
2.      Patofisiologi Anemia Pada Kehamilan
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali normal 3 bulan setelah pruts. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma laktogen plasma, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron
3.      Klasifikasi anemia pada kehamilan
Anemia pada kehamilan dibedakan menjadi :
a.       Anemia defisiensi besi (62,3%
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normositik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. Penyebabnya telah dibicarakan di atas sebagai penyebab anemia umumnya.
b.      Anemia megaloblastik (29,0%)
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik. Jarang sekali akibat karena kekurangan vitamin B12. Biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
c.       Anemia hipoplati
Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan : darah tepi lengkap, pemeriksaan fungsi sternal, pemeriksaan retikulosit dan lain-lain.


4.      Etiologi
Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah, pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, kebutuhan zat besi meningkat.
Penyebab anemia defisiensi besi antara lain :
a.       Pendarahan. Jika pendarahan berlebihan atau terjadi selama periode waktu tertentu (kronis), tubuh tidak akan dapat mencukupi kebutuhan zat besi atau cukup disimpan untuk menghasilkan hemoglobin yang cukup dan atau sel darah merah untuk menggnati apa yang hilang.
b.      Kurangnya asupan makanan. Kekurangan zat besi mungkin terjadi karena tidak atau kurang mengkonsumsi zat besi. Perempuan hamil dan menyusui sering terjadi kekurangan ini karena bayi memerlukan sejumlah besar besi untuk pertumbuhan. Defisiensi besi dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah dan persalinan prematur.
c.       Gangguan penyerapan. Kondisi tertentu mempengaruhi penyerapan zat besi dari makanan pada saluran gastrointestinal (GI) dan dari waktu ke waktu dapat mengakibatkan anemia.
Beberapa faktor risiko yang berperan dalam meningkatkan prevalensi anemia defisiensi zat besi, antara lain :
a.       Umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia. Usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnyadan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar
b.      Pendarahan akut
c.       Pendidikan rendah
d.      Status ekonomi
e.       Pekerja berat
f.       Konsumsi tablet tambah darah < 90 butir
g.      Makan < 3 kali dan kurang mengandung zat besi.
5.      Gejala klinis anemia defisiensi pada kehamilan
Manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya.
Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Bila kadar Hb gr < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas.  Nilai 

Gejala-gejala anemia adalah :
a.       Warna biru hingga putih pada mata
b.      Kuku rapuh
c.       Penurunan nafsu makan (terutama pada anak-anak)
d.      Kelelahan
e.       Sakit kepala
f.       Iritabel / mudah marah
g.      Warna kulit pucat
h.      Sesak napas
i.        Sakit pada lidah
j.        Nafsu memakan makanan yang tidak biasa (disebut pica = pilih-pilih makanan)
k.      Kelemahan
6.      Diagnosis anemia pada kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah,  sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada hamil muda. Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongan sebagai berikut :
Hb 11 g %                                     tidak anemia
Hb 9-10 g%                                   anemia ringan
Hb 7-8 g%                                     anemia sedang
Hb < 7 g%                                     anemia berat
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di Puskesmas.
7.      Komplikasi
Komplikasi akibat anemia pada kehamilan pada ibu adalah :
a.       Abortus
b.      Persalinan preterm
c.       Partus lama karena inersia uteri
d.      Perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri
e.       Syok
f.       Infeksi intra persalinan maupun pasca persalinan
g.      Payah jantung pada anemia yang sangat berat
h.      Kematian bagi ibu
Pada janin:
a.       Kematian
b.      Prematuritas
c.       Cacat bawaan
d.      Kekurangan cadangan besi

Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin, antara lain :
a.       Pengaruh anemia terhadap kehamilan
1)      Bahaya selama kehamilan : dapat terjadi abortus, persalinan prematuritas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 g%), mola hidatidosa, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD)
2)      Bahaya saat persalinan : gangguan His (kekuatan mengejan), kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar, kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan, kala uri dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan postpartum karena atonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri.
3)      Pada kala nifas : terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang, terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae.
b.      Bahaya anemia terhadap janin. Sekalipun janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga menggnggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat terjadi gangguan dalam bentuk : abortus, kematian intrauterin, persalinan prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia dapat terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal dan inteligensia rendah.
8.      Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan anemia pada kehamilan, adalah :
a.       Memberitahu ibu hasil pemeriksaan ibu dan janin
b.      Memotivasi ibu untuk banyak memakain makanan yang mengandung banyak zat besi seperti telur, susu, hati, ikan, daging, kacang-kacangan (tempe, tahu, oncom, kedelai, kacang hijau), sayuran berwarna hijau tua (kangkung, bayam, daun katuk) dan buah-buahan (jeruk, jambu biji, pisang) dan perhatikan pula pola makan teratur 3x sehari. Agar kesehatan ibu dan janinj baik
c.       Menganjurkan ibu untuk sering beristirahat yaitu tidur pada malam hari kurang lebih 7-8 jam dan siang selama kurang lebih 1-2 jam juga hindari istirahat yang belebihan dan bekerja terlalu berat
d.      Menganjurkan ibu memperhatikan bodi mekanik (sikap tubuh) yaitu bangun secara perlahan dari posisi istirahat, hindari berdiri terlalu lama dalam lingkungan yang sesak dan hindari berbaring dalam posisi terlentang.
e.       Memberikan ibu tablet Fe dengan dosis 1x1 diminum dengan air putih satu gelas dan sebaiknya diminum menjelang tidur pada malam hari agar mengurangi efeks ampingnya seperti mual dan feses menjadi merah. Tablet Fe harus diminum teratur setiap hari untuk menambah darah.
f.       Memberitahu ibu tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan seperti perdarahan, sakit kepala lebih dari biasanya dan menetap, pandangan kabur, nyeri ulu hati dan lainnya. Jika ibu mendapatkan keluhan-keluhan tersebut segera datang ke pelayanan kesehatan terdekat.
g.      Memberitahu keluarga kemungkinan komplikasi perdarahan post partum sehingga ibu harus disediakan darah untuk persiapan transfuse postpartum sehingga keluarga harus menyediakan donor darah.
9.      Pengobatan
Ppenyebab kekurangan zat besi harus ditemukan terutama pada pasien yang lansia yang menghadapi risiko terbesar untuk kanker pencernaan. Telah tersedia suplemen besi (ferro sulfat). Untuk penyerapan zat besi terbaik, minum suplemen ini dengan perut kosong. Namun, banyak orang yang tidak dapat mentoleransi keadaan ini dan mungkin perlu mengkonsumsi suplemen bersamaan dengan makanan.
Pasien yang tidak bisa mentolerir besi melalui mulut dapat menerimanya melalui injeksi vena (intravena) atau dengan suntikan kedalam otot.  Susu dan antasida dapat menganggu penyerapan zat besi dan tidak harus diambil pada waktu yang sama sebagai suplemen zat besi. Vitamin c dapat meningkatan penyerapan dan sangat penting dalam produksi hemoglobin. Kondisi hamil dan wanita menyusui perlu mendapat zat besi ekstra karena diet normal biasnaya tidak akan mencukupi jumlah yang diperlukan. Hematokrit harus kembali normal setelah 2 bulan terapi besi. Namun, zat besi harus dilanjutkan selama 6-12 bulan untuk mengisi simpanan zat besi tubuh dalam sumsum tulang.
10.  Pencegahan
Diet pada semua orang harus mencakup zat besi yang cukup. Daging merah, hati, dan kuning telur merupakan sumber penting zat besi. Tepung, roti dan beberapa sereal yang diperkaya dengan besi baik untuk pencegahan. Jika tidak mendapatkan cukup zat besi dalam diet, maka dapat dilakukan suplementasi zat besi. Selama periode tertentu yang membutuhkan zat besi tambahan (seperti kehamilan dan menyusui), maka jumlah zat besi dalam diet harus ditingkatkan atau dengan suplementasi zat besi.
11.  Kebutuhan zat besi pada wanita hamil
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai 40 mg. disamping itu, kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis (Manuaba, 2010).
Sebagai gambaran beberapa banyak kebutuhan zat besi pada setiap kehamilan antara lain :
Meningkatkan sel darah ibu                                  500 mg Fe
Terdapat dalam plasenta                                       300 mg Fe
Untuk darah janin                                                 100 mg Fe
Jumlah                                                                   900 mg Fe

            Faktor-faktor  yang menyebabkan anemia pada ibu hamil
1.      Umur ibu
Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 tahun sampai 40 tahun, dewasa Madya adalah 41 sampai 60 tahun, dewasa lanjut >60 tahun, umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Jika dilihat dari sisi biologis, usia 18-25 tahun merupakan saat terbaik untuk hamil dan bersalin. Karena pada usia ini biasanya organ-organ tubuh sudah berfungsi dengan baik dan belum ada penyakit-penyakit degenerative sepertyi darah tinggi, diabetes, dan lainnya serta daya tahan tubuh masih kuat.
Umur sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi, khususnya usia 20-25 tahun merupakan usia yang paling baik untuk hamil dan bersalin. Kehamilan dan persalinan membawa resiko kesakitan dan kematian lebih besar pada remaja dibandingkan pada perempuan yang telah berusia 20 tahunan
Umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia. Usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya dan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar.
Umur ibu menjadi salah satu faktor yang dapat mengakibatkan anemia pada ibu hamil. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia. Usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya.
2.      Status Gizi
Ilmu gizi didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan yang dimakan dengan kesehatan tubuh yang diakibatkan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Sedangkan gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama kehamilan, yaitu diantara kebutuhan selama hamil yang berbeda-beda untuk setiap individu dna juga dipengaruhi oleh riwayat kesehatan dan status gizi sebelumnya, kekurangan asupan pada salah satu zat akan mengakibatkan kebutuhan terhadap sesuatu nutrien terganggu, dan kebutuhan nutrisi yang tidak konstan selama kehamilan.
Seorang ibu yang sedang hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10-12 kg. pada trimester I kenaikan berat badan seorang ibu tidak mencapai  1 kg, namun setelah mencapai trimester ke-2 pertambahan berat badan semakin banyak yaitu 3 kg dan pada trimester 3 sebanyak 6 kg. kenaikan tersebut disebabkan karena adanya pertumbuhan janin,  plasenta dan air ketuban kenaikan berat badan yang ideal untuk seorang ibu yang gemuk yaitu 7 kg dan 12,5 kg untuk ibu yang tidak gemuk. Jika berat badan ibu tidak normal maka akan memungkinkan terjadi keguguran, lahir premature, BBLR, gangguan kekuatan rahim saat kelahiran (Kontraksi), dan pendarahan setelah persalinan.
3.      Status Ekonomi
Bahwa ekonomi adalah bagaimana manusia dan masyarakat melakukan pilihan dengan atau tanpa menggunakan sarana uang untuk memanfaatkan sumberdaya yang langka dalam menghasilkan berbagai barang dan jasa dan mendristibusikannya diantara mereka bagi keperluan konsumsi, pada saat ini atau dimasa mendatang, diantara berbagai manusia dan kelompok yang ada dimasyarakat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ekonomi adalah pembagian dan pemanfaatan barang – barang dan jasa serta kekayaan seperti keuangan, perindustrian, pedagangan, serta rumah tangga. Sedangkan yang dimaksud dengan ekonomi dalam penelitian ini adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat dan keluarga yang cenderung mengarah pada penghasilan dan pendapatan keluarga.
Peran status ekonomi dalam kesehatan sangat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang dan cenderung mempunyai ketakutan akan besarnya biaya untuk pemeriksaan, perawatan, kesehatan dan persalinan. Ibu hamil dengan status ekonomi yang memadai akan mudah memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dalam hal ini perlu ditingkatakan lagi bimbingan dan layanan bagi ibu hamil dengan status ekonomi rendah dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan puskesmas seperti posyandu, pemanfaatan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Dengan adanya sarana diatas diharapkan setiap ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik tanpa memandang status ekonomi.
Berdasarkan standar Upah Minimum Regional (UMR) di Sumatera Selatan tahun 2012 yaitu penghasilan suatu keluarga dikategorikan tinggi jika pendapatan perbulannya > Rp.1.195.000 dan dikategorikan rendah jika pendapatan perbulannya < Rp.1.195.000 (Standar UMR Sumsel,  2012).
Pada penelitian ini peneliti mengelompokkan tingkat pendapatan dalam dua kategori yaitu pendapatan tinggi : jika pendapatan > Rp.1.195.000 dan pendapatan rendah : jika pendapatan < Rp.1.195.000.

  
Penelitian Terkait
1.      Umur Ibu
Berdasarkan hasil penelitian Agustini (2010, yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari bulan April-Desember 2010 pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat. Hasil analisis bivariat diperoleh faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia adalah  umur ibu (p = 0,030) lower 2.420 dan upper 58.581. Ibu hamil diharapkan memeriksakan kehamilannya secara teratur untuk mendeteksi dini keadaan kesehatannya dan petugas kesehatan memberi penyuluhan untuk menambah pengetahuan ibu tentang  kejadian  anemia pada ibu hamil sehingga AKI dan AKB dapat diturunkan.
2.      Status gizi
Berdasarkan hasil penelitianWuryanti (2010), yang berjudul hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian anemia pada kehamilan di RSUD Wonogiri. Metode penelitian : penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang bersalin di RSUD Wonogiri. Jumlah sampel yang diperoleh mulai 19 Mei 2010 sampai dengan 10 Juli 2010 sebanyak 34 responden. Variabel bebas adalah status gizi ibu hamil dan variabel terikat adalah anemia pada kehamilan. Analisa penelitian dilakukan dengan menggunakan analisa bivariat, dengan uji statistik chi-square. Kemaknaan hasil dilihat dari p value yang dibandingkan dengan nilai α=0,05. Hasil: Dalam penelitian yang dilakukan terdapat 32,4% ibu yang mengalami anemia (Hb <11 gr%), 67,6% tidak anemia (Hb >11 gr%). Ibu dengan status gizi kurang, 45,5% mengalami anemia dalam kehamilan dan 54,5%  tidak anemia. Hasil uji korelasi chi- square nilai X2 = 8,652; p = 0,003 (p<0,05). Simpulan:  Terdapat hubungan antara status gizi ibu hamil dengan kejadian anemia dalam kehamilan.
3.      Status ekonomi
Berdasarkan hasil penelitian Agustini (2010, yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari bulan April-Desember 2010 pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat. Hasil analisis bivariat diperoleh faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia adalah  status ekonomi (p = 0,000) lower 1.946 dan upper 14.397.
2.      Status gizi
Berdasarkan hasil penelitianWuryanti (2010), yang berjudul hubungan status gizi ibu hamil dengan kejadian anemia pada kehamilan di RSUD Wonogiri. Metode penelitian : penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang bersalin di RSUD Wonogiri. Jumlah sampel yang diperoleh mulai 19 Mei 2010 sampai dengan 10 Juli 2010 sebanyak 34 responden. Variabel bebas adalah status gizi ibu hamil dan variabel terikat adalah anemia pada kehamilan. Analisa penelitian dilakukan dengan menggunakan analisa bivariat, dengan uji statistik chi-square. Kemaknaan hasil dilihat dari p value yang dibandingkan dengan nilai α=0,05. Hasil: Dalam penelitian yang dilakukan terdapat 32,4% ibu yang mengalami anemia (Hb <11 gr%), 67,6% tidak anemia (Hb >11 gr%). Ibu dengan status gizi kurang, 45,5% mengalami anemia dalam kehamilan dan 54,5%  tidak anemia. Hasil uji korelasi chi- square nilai X2 = 8,652; p = 0,003 (p<0,05). Simpulan:  Terdapat hubungan antara status gizi ibu hamil dengan kejadian anemia dalam kehamilan.
3.      Status ekonomi
Berdasarkan hasil penelitian Agustini (2010, yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei yang bersifat deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder dari bulan April-Desember 2010 pada ibu hamil di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat. Hasil analisis bivariat diperoleh faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia adalah  status ekonomi (p = 0,000) lower 1.946 dan upper 14.397.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar